Kita perlu belajar di jenjang SMA. Sebab, dijenjang ini kita dapat memperoleh berbagai pengalaman-pengalaman baru yang tidak kita dapat sewaktu di jenjang SMP. selain itu, belajar di jenjang SMA juga dapat membantu kita menentukan jurusan di perguruan tinggi nantinya sekaligus menentukan minat dan bakat kita di bidang pelajaran apa. Contohnya di SMA kelas 2 diadakan pemilihan jurusan IPA atau IPS. Jurusan itu sangat berpengaruh bagi pemilihan jurusan di perguruan tinggi ang kita minati.

Markurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Hanya Delapan Planet tersebut yang dinyatakan sebagai Anggota Tata
Surya sekarang. Sedangkan Pluto "Si kecil" telah tereliminasi.
Keputusan itu dinyatakan dalam pertemuan INTERNATIONAL ASTRONOMICAL
UNION (IAU) ke-26 di Praha Republik Ceko (24 agustus 2006) yang
dilakukan dengan voting oleh 424 ahli astronom di seluruh dunia. Dalam
pertemuan Resolusi IAU ke-26 tersebut, juga membahas tentang
penambahan tiga anggota baru tata surya yaitu Ceres, Charon (satelit
(bulan) mayot Pluto), dan 2003 UB313. Namun ketiga calon tersebut
tidak dapat menjadi anggota baru tata surya dikarenakan berada diluar
dari wilayah tata surya (Kuiper Belt). 

 (lagi...)

Belajar membuat blog tidaklah sulit, asalkan mau dan terus berusaha, banyak situs-situs yang memberikan tips-tips yang berguna. Berikut ini beberapa manfaat yang bisa didapat dari membuat blog.

Belajar menulis – membuat blog berarti harus banyak menulis dan mencari bahan untuk tulisan, sebelum membuat blog menulis adalah hal yang paling membosankan bagi saya. Tetapi setelah membuat blog menulis hampir menjadi kebutuhan, karena saya ingin blog ini terus berkembang untuk itu berarti harus belajar mencari bahan tulisan dan menuliskannya.

(lagi…)

Dalam film remaja tapi bertokoh “dewasa” ini, bertebar dialog macam begini:
”Siapa sih elo?”
”Apa sih mau elo?”

Saya gatal sekali ingin menambahi kata ”Rud” pada dua macam kalimat itu. Jadi, begini: ”Siapa sih, elo, Rud?”; atau, ”Apa sih mau elo, Rud?” Menonton Cintapuccino, saya memang gatal sekali ingin bertanya demikian kepada sang sutradara, Rudi Soedjarwo. Saya heran, sutradara yang dengan gagah pernah berteriak di mimbar FFI, “Selama saya masih berdiri, film Indonesia tak akan mati!” ini kok bisa-bisanya menghasilkan film luar biasa malas begini. (Atau mungkin saya heran, kok bisa-bisanya Rudi berteriak begitu?)

(lagi…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »