TeenLit: THE BOOKAHOLIC CLUB
Poppy D. Chusfani
Novel remaja karya asli; GM 31207033; ISBN 979-22-3236-2; 192hlm; 13.5×20cm;
Des penyihir. Tori gagap dan culun. Chira bisa melihat hantu. Erin luar biasa cantik dan populer. Keempat gadis remaja yang tampaknya bertolak belakang ini ternyata memiliki kesamaan, merasa terkucil dan mencintai buku. Tanpa sengaja mereka berkawan.
Tanpa sengaja? Itu pikir mereka. Ada yang sengaja mempertemukan mereka, demi tugas yang harus mereka hadapi. Tugas mengerikan yang akan menghadapkan mereka pada situasi hidup dan mati, mimpi buruk yang jadi kenyataan. Keempat anak yang menyebut diri sebagai The Bookaholic Club ini bakal melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar mendiskusikan buku.
Februari 21, 2008
Februari 2, 2008
Februari 2, 2008
Resensi Novel TeenLit: ALICE: CAPEKNYA JADI NONA RUMAH
Posted by andrewyudha under Tak Berkategori[2] Comments
TeenLit: ALICE: CAPEKNYA JADI NONA RUMAH
Alice in April
Phyllis Reynolds Naylor
Novel remaja terjemahan; GM 31207024; ISBN
979-22-3076-9; 160hlm; 13.5×20cm
Alice hampir berusia tiga belas tahun sekarang. Aunt Sally mengingatkannya bahwa sekarang Alice menjadi Nona Rumah-lengkap dengan semua kewajibannya.
Sekarang giliran Alice untuk menjaga dan merawat ayah serta abangnya. Alice kewalahan menambal pakaian, beberes, memasak, menata rumah, membuat jadwal, mendukung kisah cinta ayah dan abangnya. Belum lagi memikirkan tingkah laku cowok-cowok kelas tujuh yang menyebalkan. Coba,berani-beraninya mereka menamai cewek-cewek dengannama negara bagian Amerika… berdasarkan ukuran dadanya! Alice jadi stres menerka-nerka nama apa yang dia dapat.
Berakrobat sana-sini, Alice sadar menjadi Nona rumah ternyata sulitnya minta ampun. Saat Aliceharus mengadakan pesta ulang tahun untuk ayahnya, kesabaran dan keuletan Alice benar-benar diuji.
Sanggupkah Alice mempertahankan posisinya sebagai Nona Rumah?
Februari 2, 2008
~PANDANGAN KAUM MUDA~ Resensi Buku: Teroris karya John Updike
Posted by andrewyudha under resensi novelLeave a Comment
Amman, Yordania – Novel terbaru John Updike, Teroris, yang diluncurkan beberapa minggu lalu di Amerika Serikat, sangat laku seperti “kacang goreng”. Mungkin ia langsung menjadi novel terlaris karena ia adalah karya tulisan John Updike. Atau mungkin karena kehidupan dan alam pikiran seorang teroris sangat menarik bagi orang Amerika.
Buku tersebut diawali dengan pemikiran yang berkecamuk di kepala seorang Amerika Arab, murid sekolah menengah, bernama Ahmad, seseorang yang tak dapat bertenggang rasa, konservatif, tukang protes yang menjaga jarak dengan cara hidup orang Amerika tapi tajam pandangannya.
Ibunya adalah seorang Amerika Irlandia. Ayahnya, yang menghilang sejak masa kanak-kanaknya, adalah seseorang berbangsa Mesir. Seorang murid kelas tiga SMA yang sensitif dan cerdas, Ahmad kelihatannya gagal untuk mewujudkan potensinya ketika ia menyampaikan kepada guru pembimbingnya yang Yahudi, Jack – tokoh utama lain dalam novel ini – bahwa ia hanya bercita-cita menjadi seorang supir truk.
Novel ini sering terasa seperti bukan tulisan fiksi karena penggambarannya tentang berbagai peristiwa politik nyata dan isu-isu identitas. Di sana ada cerita tentang 11/9, penyebutan konflik Israel-Palestina, dan yang lebih penting, kisah tentang seorang remaja yang bingung hidup di dua dunia, Muslim dan Amerika.
Pembaca menyaksikan penolakan Ahmad yang semakin menguat dan kurangnya hubungan-hubungan sosial yang sehat berkembang mejadi sesuatu yang jauh lebih tidak sehat daripada sekedar kegelisahan seorang remaja – Ahmad mempertimbangkan untuk menjadi seorang pelaku bom bunuh diri. Jack bisa menangkap potensi dan kecerdasan Ahmad tetapi tidak berhasil menghentikan proses tersebut, sebagian karena simpatinya terhadap beberapa kecaman Ahmad terhadap masyarakat Amerika. Ketertarikannya terhadap Ahmad membawanya ke cara pandang baru terhadap diri pribadinya dan perjumpaan-perjumpaan yang aneh.
Tulisan Updike begitu hidup, memikat pembacanya ke jalan-jalan yang dilalui Ahmad, lingkungan dan sekolahnya: “Ruang-ruang sekolah dipenuhi wangi parfum dan bau keringat, bau permen karet dan makanan kantin yang kotor, dan bau pakaian – katun dan wol dan bahan sintetis sepatu olahraga.”
Sayangnya, berbagai klise dan stereotipe terkadang melumpuhkan novel tersebut, terlepas dari bakat Updike dalam permainan kata. Seperti yang dikesankan judulnya, kadang-kadang kelihatannya gambaran Updike tentang Ahmad melibatkan stereotipe yang tipis bedanya dengan rasisme, dan apakah ini adalah pandangan-pandangan Updike atau hanya karakter-karakternya tidaklah jelas. Bahkan gambar sampul buku adalah bayangan seseorang, tanpa
ciri-ciri yang jelas, berjalan menjauh.
Cermatilah bagaimana seorang agen Federal membahas kesulitan-kesulitan dalam penyelidikan para tersangka: “Sial!” ia meledak…”Saya benci kehilangan aset. Kita tidak punya banyak di kalangan masyarakat Muslim …Kita tidak punya cukup banyak orang yang berbahasa Arab, dan setengah dari yang kita punya berpikir dengan cara yang berbeda dengan kita. Ada sesuatu yang aneh dengan bahasa tesebut – ia membuat mereka, entah kenapa, jadi berpikiran lemah…Kelompok yang pemarah…mereka tidak bicara, atau kalau tidak, penerjemahnya yang tidak mengatakan kepada kita apa yang mereka katakan. Mereka saling melindungi satu sama lain, bahkan mereka yang kita bayar, kita tak bisa percaya pada anak buah kita sendiri …”
Namun, novel ini tetap merupakan novel yang mencekam dan layak dibaca terlepas dari kekurangan-kekurangan ini. Penggunaan bahasa Arab Updike dan kutipan-kutipannya dari Al Qur’an menunjukkan penelitian mendalam, yang memberikan kesan meyakinkan dalam memberikan suatu gambaran yang bagi banyak pembaca Arab mungkin terasa kurang nyaman. Sayangnya, sebagian laki-laki muda Muslim memang mengambil jalan yang dipilih Ahmad, dan Updike telah melakukan pekerjaan yang layak dihormati dan ilmiah dalam menggali berbagai interpretasi tentang Islam yang menghasilkan tindakan-tindakan yang begitu menghancurkan tersebut.
Akhirnya, akhir cerita Updike yang penuh harapan, yang mungkin dipaksakan, tetap menyampaikan bahwa kekerasan dan terorisme dapat dihindari dan bahwa pemahaman antar kebudayaan mungkin terjadi: sang guru pembimbing, bukan para agen FBI yang bersenjata lengkap, yang akhirnya menyelamatkan keadaan karena Jack dapat berempati dengan Ahmad dan memahaminya.
Kadang-kadang, sama tidak nyamannya dengan novel ini, memang butuh waktu lama untuk menggali, dan mungkin menjembatani, kesenjangan kesalahpahaman yang terus melebar antara dunia Arab dan Amerika. Updike menguraikan isu-isu ini dan menampilkannya secara fasih, walaupun menyakitkan. Pada saat yang sama, Updike kelihatannya juga sama tertariknya untuk menggunakan sudut pandang Ahmad untuk mengecam masyarakat Amerika kontemporer sambil menuliskan cerita pasca 11/9. Baik bagi kaum Muslim dan bangsa Barat, ada banyak hal yang dapat diteladani dari novel ini.
###
Rana Sweis adalah wartawan dan alumni Hofstra University. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 29 Agustus 2006
Website www.commongroundnews.org
Ijin hak cipta telah diperoleh untuk publikasi.







