Amman, Yordania – Novel terbaru John Updike, Teroris, yang diluncurkan beberapa minggu lalu di Amerika Serikat, sangat laku seperti “kacang goreng”. Mungkin ia langsung menjadi novel terlaris karena ia adalah karya tulisan John Updike. Atau mungkin karena kehidupan dan alam pikiran seorang teroris sangat menarik bagi orang Amerika.
Buku tersebut diawali dengan pemikiran yang berkecamuk di kepala seorang Amerika Arab, murid sekolah menengah, bernama Ahmad, seseorang yang tak dapat bertenggang rasa, konservatif, tukang protes yang menjaga jarak dengan cara hidup orang Amerika tapi tajam pandangannya.
Ibunya adalah seorang Amerika Irlandia. Ayahnya, yang menghilang sejak masa kanak-kanaknya, adalah seseorang berbangsa Mesir. Seorang murid kelas tiga SMA yang sensitif dan cerdas, Ahmad kelihatannya gagal untuk mewujudkan potensinya ketika ia menyampaikan kepada guru pembimbingnya yang Yahudi, Jack – tokoh utama lain dalam novel ini – bahwa ia hanya bercita-cita menjadi seorang supir truk.

Novel ini sering terasa seperti bukan tulisan fiksi karena penggambarannya tentang berbagai peristiwa politik nyata dan isu-isu identitas. Di sana ada cerita tentang 11/9, penyebutan konflik Israel-Palestina, dan yang lebih penting, kisah tentang seorang remaja yang bingung hidup di dua dunia, Muslim dan Amerika.

Pembaca menyaksikan penolakan Ahmad yang semakin menguat dan kurangnya hubungan-hubungan sosial yang sehat berkembang mejadi sesuatu yang jauh lebih tidak sehat daripada sekedar kegelisahan seorang remaja – Ahmad mempertimbangkan untuk menjadi seorang pelaku bom bunuh diri. Jack bisa menangkap potensi dan kecerdasan Ahmad tetapi tidak berhasil menghentikan proses tersebut, sebagian karena simpatinya terhadap beberapa kecaman Ahmad terhadap masyarakat Amerika. Ketertarikannya terhadap Ahmad membawanya ke cara pandang baru terhadap diri pribadinya dan perjumpaan-perjumpaan yang aneh.

Tulisan Updike begitu hidup, memikat pembacanya ke jalan-jalan yang dilalui Ahmad, lingkungan dan sekolahnya: “Ruang-ruang sekolah dipenuhi wangi parfum dan bau keringat, bau permen karet dan makanan kantin yang kotor, dan bau pakaian – katun dan wol dan bahan sintetis sepatu olahraga.”

Sayangnya, berbagai klise dan stereotipe terkadang melumpuhkan novel tersebut, terlepas dari bakat Updike dalam permainan kata. Seperti yang dikesankan judulnya, kadang-kadang kelihatannya gambaran Updike tentang Ahmad melibatkan stereotipe yang tipis bedanya dengan rasisme, dan apakah ini adalah pandangan-pandangan Updike atau hanya karakter-karakternya tidaklah jelas. Bahkan gambar sampul buku adalah bayangan seseorang, tanpa
ciri-ciri yang jelas, berjalan menjauh.

Cermatilah bagaimana seorang agen Federal membahas kesulitan-kesulitan dalam penyelidikan para tersangka: “Sial!” ia meledak…”Saya benci kehilangan aset. Kita tidak punya banyak di kalangan masyarakat Muslim …Kita tidak punya cukup banyak orang yang berbahasa Arab, dan setengah dari yang kita punya berpikir dengan cara yang berbeda dengan kita. Ada sesuatu yang aneh dengan bahasa tesebut – ia membuat mereka, entah kenapa, jadi berpikiran lemah…Kelompok yang pemarah…mereka tidak bicara, atau kalau tidak, penerjemahnya yang tidak mengatakan kepada kita apa yang mereka katakan. Mereka saling melindungi satu sama lain, bahkan mereka yang kita bayar, kita tak bisa percaya pada anak buah kita sendiri …”

Namun, novel ini tetap merupakan novel yang mencekam dan layak dibaca terlepas dari kekurangan-kekurangan ini. Penggunaan bahasa Arab Updike dan kutipan-kutipannya dari Al Qur’an menunjukkan penelitian mendalam, yang memberikan kesan meyakinkan dalam memberikan suatu gambaran yang bagi banyak pembaca Arab mungkin terasa kurang nyaman. Sayangnya, sebagian laki-laki muda Muslim memang mengambil jalan yang dipilih Ahmad, dan Updike telah melakukan pekerjaan yang layak dihormati dan ilmiah dalam menggali berbagai interpretasi tentang Islam yang menghasilkan tindakan-tindakan yang begitu menghancurkan tersebut.

Akhirnya, akhir cerita Updike yang penuh harapan, yang mungkin dipaksakan, tetap menyampaikan bahwa kekerasan dan terorisme dapat dihindari dan bahwa pemahaman antar kebudayaan mungkin terjadi: sang guru pembimbing, bukan para agen FBI yang bersenjata lengkap, yang akhirnya menyelamatkan keadaan karena Jack dapat berempati dengan Ahmad dan memahaminya.

Kadang-kadang, sama tidak nyamannya dengan novel ini, memang butuh waktu lama untuk menggali, dan mungkin menjembatani, kesenjangan kesalahpahaman yang terus melebar antara dunia Arab dan Amerika. Updike menguraikan isu-isu ini dan menampilkannya secara fasih, walaupun menyakitkan. Pada saat yang sama, Updike kelihatannya juga sama tertariknya untuk menggunakan sudut pandang Ahmad untuk mengecam masyarakat Amerika kontemporer sambil menuliskan cerita pasca 11/9. Baik bagi kaum Muslim dan bangsa Barat, ada banyak hal yang dapat diteladani dari novel ini.

###

Rana Sweis adalah wartawan dan alumni Hofstra University. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa diakses di http://www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 29 Agustus 2006
Website http://www.commongroundnews.org
Ijin hak cipta telah diperoleh untuk publikasi.