Summary rating: 1 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Hafis Azhari
Ringkasan oleh : RakaSyailendra
Kunjungan: 151
Resensi Novel Psiko-Histori Indonesia “PETUNJUK DARI LUBANG BUAYA”Oleh Muhamad Thorik”Petunjuk dari Lubang Buaya” tergolong novel psiko-histori yang sarat ledakan-ledakan emosi yang indah dari psikologi manusia Indonesia masa kini. Inilah salah satu novel karya Hafis Azhari, yang bercerita tentang rahasia besar di seputar tahun 1965, yang apabila diungkapkan dengan baik dan benar, niscaya melahirkan kekayaan imajinasi bagi bangsa yang semakin tumbuh dewasa ini.
Bung Hafis merasa sudah waktunya menyampaikan novel ini kepada rakyat Indonesia, yang terhimpun dari hasil penelitiannya selama tiga tahun, sambil mewawancarai para mantan tapol (tahanan politik) rejim Orde Baru yang tersebar di penjuru negeri ini. Dimulai dari kekisruhan dan kekacauan menjelang kejatuhan Presiden Soeharto, kemudian cerita berkembang ke masalalu penulisnya,
ketika harus menentukan pilihan-pilihan baik dan benar dalam perjalanan hidupnya. Apa makna kebaikan dan kebenaran itu, di saat ia dituntun Oleh para orang tua, guru-guru bahkan buku-buku, yang didominasi oleh keputusan vital yang dijungkirbalikkan oleh sistem penguasa yang serba korup dan sarat kebohongan itu. Ia tak mengerti suatu peribahasa, bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, karena ia semakin merasa bahwa pengalaman hidupnya telah mengantarkannya ke jurang kesesatan, disebabkan oleh para pembimbingnya pun terdiri dari “orang-orang kesurupan” yang prinsip hidupnya telah dibelokkan oleh doktrin-doktrin para penguasa saat itu. Lambat laun ia semakin memahami bahwa hakekat manusia tak lebih dari setumpukan mitos dan memori dalam benaknya, dan bahwa perbuatan manusia (baik maupun jahat) adalah hasil dari pergelutan memori yang paling dominan pada dirinya. Di situlah ia menyadari bahwa hakekat militer dan tentara sejati, bukanlah mereka yang bertempur memerangi lawan dan musuh, tetapi justru berjuang-keras menaklukan pikiran dan pandangan-pandangan hidup manusia. Suatu hari si tokoh kabur dari asrama tempatnya belajar (sejenis STPDN), kemudian oleh keluarganya dibawa ke psikiater. Sang Dokter mendiagnosanya mengalami gejala schizophrenia, di mana pasien mengisi hari-harinya dengan kesibukan menulis puisi, cerpen dan menggambar; yang semula orang-orang tak memahmi apa yang dimaksud dengan coretan-coretan penderita schizophren itu. Namun akhirnya sang Dokter menyadari ada suatu rahasia yang tersimpan dalam benak pasiennya, yang merupakan “harta karun” yang terpendam sejak tahun 1965; dan apabila dibuka secara jujur dan tulus, maka akan menyingkap rahasia-rahasia besar yang akan memperkaya imajinasi bangsa Indonesia….Banten, 23 Oktober 2007