Dalam film remaja tapi bertokoh “dewasa” ini, bertebar dialog macam begini:
”Siapa sih elo?”
”Apa sih mau elo?”

Saya gatal sekali ingin menambahi kata ”Rud” pada dua macam kalimat itu. Jadi, begini: ”Siapa sih, elo, Rud?”; atau, ”Apa sih mau elo, Rud?” Menonton Cintapuccino, saya memang gatal sekali ingin bertanya demikian kepada sang sutradara, Rudi Soedjarwo. Saya heran, sutradara yang dengan gagah pernah berteriak di mimbar FFI, “Selama saya masih berdiri, film Indonesia tak akan mati!” ini kok bisa-bisanya menghasilkan film luar biasa malas begini. (Atau mungkin saya heran, kok bisa-bisanya Rudi berteriak begitu?)

Jika film Indonesia tak mati, tapi hasilnya macam begini saja, ya, saya pikir lebih baik mati dulu saja lah film Indonesia. Siapa tahu bisa reinkarnasi, mungkin jadi cacing dulu untuk menebus “dosa”, sebelum jadi makhluk lebih tinggi dan akhirnya masuk nirvana. Rudi sang pemenang Citra –apa artinya? Demikian juga Jujur Prananto, cerpenis handal dan pemenang Citra untuk penulis skenario, yang mendampingi Icha Rahmanti sang penulis novel yang difilmkan Rudi ini. Apa artinya para pemenang Citra yang seharusnya jadi tolok ukur keunggulan film nasional itu?

Saya merasa gatal bertanya-tanya begitu karena saya merasa telah dikhianati Rudi lewat film ini. Saya suka sekali Ada Apa Dengan Cinta? –sebuah film hiburan yang segar, menyenangkan, dan dengan caranya sendiri telah cukup tepat menyuarakan suasana zaman. Keterampilan teknis pembuatan film yang menjadi kebanggaan tersendiri para pembuat film generasi Rudi, sangat tampak. Ciri lain, keasyikan membuat film, tampak nyata dalam Ada Apa Dengan Cinta? –sejenis keasyikan yang memancar dari layar, menular kepada penonton.

Film-film Rudi sesudah itu rata-rata tak kehilangan ciri keasyikan tersebut. Tentu, banyak sekali masalah dalam film-film Rudi macam Tentang Dia, Mengejar Matahari, Mendadak Dangdut –umumnya, berhubungan dengan karakterisasi, “logika dalaman” film, dan ketakbermaknaan pesan-pesan dalam film-filmnya, yang sering bersifat pseudo-filsafat itu. Tapi paling tidak, saya mendapatkan sebuah sajian yang dihidangkan dengan keterampilan teknis pembuatan film yang beres. Berbagai kelemahan film-film Rudi, adalah juga kelemahan umum pembuat film generasinya. Dalam konteks kelemahan umum itu, Rudi termasuk di atas rata-rata lah.

Setelah meletakkan dulu akal saya di tangan penyobek karcis bioskop, paling tidak saya bisa berharap mendapat hiburan alakadarnya dari film-film Rudi. Harapan itulah yang dengan spektakuler diruntuhkan Cintapuccino, persis setelah adegan main “kartu monyet” di saat credit title permulaan film.

Fotografi yang tampak kurang profesional, misalnya. Tak apalah jika memang semangatnya adalah dalam rangka sinema gerilya. Tapi keseluruhan dialog, cerita, setting, pengarahan seni peran dalam Cintapuccino sama sekali tak menampakkan semangat itu: yang tampil hanyalah sebuah upaya mensimulasi gaya hidup remaja konsumtif tanpa refleksi sama sekali. Apa perlunya kamera, tata cahaya, dan penataan adegan harus bernuansa gerilya-non-profesional itu?

Ada, memang, upaya philosophizing (memfilsafat-filsafatkan) cerita, di awal dan akhir film –soal “metafor” kopi untuk beberapa tipe cinta itu (saya ragu, adegan Ida Kusumah membisiki Sissy Priscillia tentang perlunya menikah dengan orang yang dicintai itu sebuah upaya berfilsafat juga, karena alangkah dangkalnya adegan itu!). Yang terasa hanyalah “filsafat” kelas horoskop dan tips cinta majalah ABG. Dengan kata lain, Cintapuccino sama sekali tak punya hal berharga untuk diucapkan.

Masalah film ini mungkin telah ada sejak kelahiran novel Cintapuccino sendiri. Novel yang tergolong chic lit lokal ini adalah salah satu sukses pertama lini penerbitan populer penerbit GagasMedia. Hampir berbarengan dengan novel ini, terbit juga Jomblo yang telah difilmkan juga, oleh Hanung Bramantyo. Kedua novel ini agaknya menjadi cetak biru sukses GagasMedia: keduanya ditulis oleh penulis muda debutan, yang sama sekali tak terdidik sebelumnya dalam profesi atau seni menulis, dan keduanya punya jaringan pergaulan anak muda yang oke.

Boleh dicurigai, pertimbangan ke-“tokoh”-an para penulis baru itulah yang jadi pertimbangan penerbit, sebuah potensi laris yang kuat. Demi potensi itu, GagasMedia menerapkan kebijakan redaksional yang radikal: sama sekali tak melakukan editing, naskah dibiarkan apa adanya. Soal (peniadaan) penyuntingan ini memberi pesan bahwa memang buku-buku jenis ini semata barang dagangan. Sebagai barang dagangan, kemasan lebih utama daripada ambisi artistik apa pun. Rupanya, sikap ini cocok benar dengan cara Rudi membuat film Cintapuccino –paling tidak, kesan yang saya tangkap dari film itu: bahwa film adalah barang dagangan, tak lebih dan tak kurang.

Karena pertimbangan daganglah, dipasang Miler (sebagai Nimo) yang lebih tampak idiot ketimbang ganteng dan pantas jadi obsesi Rahmi (Sissy Priscillia) selama, ceritanya, 11 tahun. Miler agaknya adalah bintang Malaysia, paling-paling disertakan semata untuk membuka pasar di negeri jiran dan bukan karena talenta. Karena pertimbangan daganglah, tak ada upaya pencerdasan lebih lanjut dari sang sineas dalam adaptasinya terhadap buku populer itu. Karena menganggap film hanyalah barang dagangan lah, maka Rudi tampak sekali malas menafsir dan memberdayakan berbagai unsur film untuk menghidupkan cerita yang mati ini.

Rudi sekadar memajang saja tiga pemain senior Nani Wijaya, Ida Kusumah, dan Nani Somanegara dalam film ini. Terutama Nani Wijaya dan Nani Somanegara yang aktris watak kuat, sama sekali tak termanfaatkan. Rudi juga mencoba bermain-main dengan pendekatan “kamera goyah”, dengan (digital) handheld camera, seperti pada bagian awal saat permainan “kartu monyet” keluarga. Buat apa? Efek realisme? Tapi realisme apa sih yang ditawarkan oleh komedi romantik ini? Dan jika film ini menawarkan fantasi eskapis, “komedi” dan “romantik”-nya pun tak tergarap.

Satu-satunya pilihan Rudi yang benar dalam film ini, hanyalah Sissy Priscillia. Aktris ini tak cantik tipikal, tubuhnya montok cenderung gemuk. Pemeran Milly yang blo’on tapi jagoan menyetir dalam Ada Apa Dengan Cinta? ini menampakkan bakat besar untuk jadi bintang romcom yang alamiah. Ada satu adegan klise dari segi filmis, saat Rahmi seolah berbicara dengan pujaan hatinya, tapi ketika kamera perlahan zoom out ternyata ia hanya bicara dengan bonekanya. Monolog ini direkam dalam satu take panjang, dan satu-satunya yang membuat adegan ini berjalan hanyalah renyahnya pemeranan Sissy.

Selebihnya, film ini hanya jadi kesia-siaan pameran gaya hidup kelas menengah yang dungu, yang hanya disibukkan oleh rasa cinta remeh. Cinta, tentu, bukan soal remeh –tapi film ini membuatnya remeh. Film ini adalah “lampu merah” bagi Rudi, untuk berhenti dulu membuat film. Bukan karena “paket-hemat-bikin-film-tujuh-hari-selesai”-nya yang banyak dikritik itu. Bikin film cepat tak mesti berarti asal-asalan, kok. Rudi mesti berhenti dulu membuat film karena tampak ia sedang tak asyik membuat film. Ia hanya kejar setoran, seperti supir metro mini S 75 yang kesetanan ngebut di jalan sempit Mampang.

(Bahwa ada saja penonton yang merasa terwakili oleh film cinta remeh ini, membuat saya berpikir: jangan-jangan, budaya kita pun sedang di jelang lampu merah?) ***

Judul: Cintapuccino
Sutradara: Rudi Soedjarwo.
Pemain: Sissy Priscillia, Aditya Herpavi, Nadia Saphira.
Produksi: SinemArt Pictures.

Penulis adalah redaktur rumahfilm.org. Lebih dikenal sebagai pengamat komik, mengawali karir menulis dengan mengamati berbagai segi budaya populer, buku, dan film. Tinggal di Jakarta.